Uji Prasarat Analisis: Normalitas, Homogenitas, dan Linieritas
Hallo temen-temen..
Kali ini saya akan membagikan essai kecil terkait Uji Prasarat Analisis: Normalitas, Homogenitas, dan Linearitas.
1. Normalitas
Uji normalitas didefinisikan sebagai
salah satu pengujian dalam statistika dengan tujuan melihat sebaran data
dalam suatu populasi atau variable penelitian. Penting bagi peneliti untuk
melakukan uji normalitas ini karena sebagai langkah awal penentuan analisis
statistika data tersebut dapat menggunakan statistic parametric atau non-parametric.
Uji
Normalitas dapat dilakukan dengan syarat:
a.
Data
kuantitatif: Bisa dihitung atau diukur secara langsung sebagai angka.
b.
Skala
kontinyu: Data yang bervariasi menurut tingkatan dan diperoleh dari hasil
pengukuran
c.
Jenis
data: Data interval dan rasio
d.
Data
Tunggal: Belum dikelompokkan ke dalam table distribusi frekuensi.
Uji normalitas dilakukan pada penelitian dengan data berskala
kuantitatif. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk uji
normalitas, yakni sebagai berikut:
a. Uji
grafik: Metode pengujian normalitas dengan menggunakan grafik ini
dilakukan dengan memperhatikan penyebaran data pada sumber diagonal
dengan grafik normal P-P Plot of Regression Standardized Residual.
b. Kolmogorov Smirnov: Pengujian
normalitas dengan metode Kolmogorov Smirnov merupakan metode yang banyak dipakai oleh peneliti. Hal ini karena pengaplikasiannya yang sederhana dan juga tidak menimbulkan banyak persepsi antar pengamat, dimana hal ini masih terjadi pada pengujian normalitas dengan metode grafik. Namun pada metode Kolmogorov Smirnov juga masih memiliki kekurangan berupa tingkat sensivitasnya masih cenderung pada area pusat distribusi dibandingkan area ujung, sehingga kurang efektif jika
digunakan untuk menguji normalitas pada data kecil
c. Shapiro Wilk: Metode Shapiro Wilk merupakan metode untuk uji normalitas yang efektif digunakan dengan berjumlah kecil, yakni dilakukan apabila data penelitiannya < 50 data. Pada penggunaanya peneliti dapat memanfaatkan software SPSS atau STATA guna memudahkan proses perhitungannya.
d. Sknewness – Kurtosis:
Uji Knewness – Kurtosis memiliki kelebihan tersendiri diantara metode uji
normalitas lainnya. Hal ini karena pengujian normalitas dengan metode ini
selain memberikan informasi terkait data yang terdistribusi normal atau
tidak, juga menggambarkan kurva normalitasnya cenderung “menceng” ke
kanan atau ke kiri, terlalu datar atau “gemuk” (mengumpul di tengah).
Dengan demikian, penyebutan metode ini seringkali menggunakan istilah
pengujian normalitas dengan ukuran kemencengan/ keruncingan suatu data.
2.
Homogenitas
Dalam uji homogenitas merupakan uji
untuk mengetahui varians dari beberapa populasi sama atau tidak. Uji ini
sebagai syarat dari uji-uji perbandingan (t test dan anova), dengan
syarat cukup. Yang berarti jika uji homogenitas tidak terpenuhi bisa
menggunakan uji parametrik.
Berikut
ini merupakan jenis-jenis uji homogeitas:
a. Uji
Bartlett: Uji prasyarat ini bertujuan untuk
menguji homoskedastisitas dari dua populasi atau lebih yang terdistribusi
normal
b. Uji
Herley: Uji Hartley adalah uji yang paling sederhana karena hanya
membandingkan variansi terbesar dengan variansi terkecil. Namun
persyaratan pada uji ini cukup ketat yaitu jumlah sampel di kedua
kelompok harus sama dan terdistribusi normal.
c. Uji
Layard: Layard mengenalkan uji chi-square menggunakan fungsi kurtosis dari
sampel untuk menentukan homogenitas varians.
d. Uji
Levene: Uji Levene diturunkan dari F-rasio pada uji ANOVA satu jalur. Uji
ini paling popular daripada yang lain. Uji levene digunakan untuk
mengetahui perbedaan dari dua variabel data dengan varians yang berbeda. Hasil
tes ini menunjukkan nilai signifikansi dari dua data yang berbeda. Nilai
signifikansi > 0,05 menandakan bahwa data tersebut variannya sama (homogen).
Disamping itu, jika nilai signifikansi < 0,05 maka, menunjukkan bahwa
kelompok data tersebut berasal varians yang berbeda (heterogen).
3.
Linieritas
Status linier
pada sebuah distribusi data penelitian dapat diketahui dengan suatu prosedur
yan dinamakan uji linearitas, dimana pengujian ini dimaksudkan untuk mendapati
adanya hubungan antar dua variable (variable pengaruh dan variable terpengaruh)
bersifat linier ataupun tidak secara signfikan.
Uji linieritas terbagi dalam dua jenis
popular yaitu analisis dengan menggunakan metode uji statistika dan grafik,
yang selanjutnya diuraikan dalam beberapa metode sebagai berikut:
a.
Grafik
Pencar (Scatterplot)
Metode scatter pada sebuah grafik digunakan untuk menjabarkan hubungan
dua variabel yang diwujudkan dalam titik-titik yang mendeskripsikan sebaran
data dalam suatu hubungan antar variable.
b.
Analisis
Grafik Residual (Residual Graph Analysis)
Metode analisis residual digunakan untuk menperhatikan dan
mengonfrontasikan nilai residu dan prediksi yang terstandar menggunakan grafik
c.
Estimasi
Kurva (Curve Estimation Method)
Metode ini menggunakan model atau pola hubungan antar dua variabel
seperti linier (orde 1), kuadrat (orde 2), atau kuartik (orde ke-n). Pengujian
dilakukan dengan mencontoh pola paling dekat dengan data yang akan diujikan,
yang nantinya tendensi dari pola data akan tunjukkan hubungan pola yang
digunakan.
d.
Perbedaan
Eta dan R kuadrat
Metode ini menggunakan hubungan antara eta dan r, yang seperti sudah
diketahui eta adalah koefisien asosiasi non-linier jika hubungannya linier
nilainya akan sama dengan koefisien korelasi (r Pearson).
e.
Linieritas
dalam ANOVA
Uji linieritas dengan menggunakan ANOVA dapat dililhat dari hasil perhitungan nilai F dalam setiap pasang variabel yang merupakan komponen linier dan non- linier, dimana jika taraf signifikan F komponen linier berada dibawah titik kritis 0,05 (misal p < 0,05) maka hubungan dari pasangan variabel terindentifikasi sebagai non-linier.
Komentar
Posting Komentar